Sabtu, 02 Februari 2008


Jumat, 11 Januari 2008

BAYANGAN KEMATIAN *)

Waktu itu, malam tahun baru. Usai sholat maghrib, kami
mengadakan
pengajian singkat menyambut tahun 1996. Saya menyarankan agar
masing-masing
merenungkan makna tahun baru bagi dirinya. Jama'ah diam. Pengajian
tampak
seperti upacara mengheningkan cipta. Kami tesentak ketika wak Haji, yang
tertua diantara kami, memecahkan kesunyian, "Saya kira tidak layak
menyambut
tahu baru dengan pesta. Bukankah tahun baru adalah berita duka ?
Bukankah
setiap tahun baru mengantarkan kita lebih dekat ke kuburan ? Pada
tahun-tahun yang lalu, maut telah mengambil kawan-kawan atau keluarga
kita.
Lalu, siapa yang akan dijemput maut tahun ini ?"
Wak haji sudah berusia 89 tahun, walaupun tampak sehat dan kuat.
Ia
taat beribadah, selalu sholat berjama'ah. Ia datang ke Mesjid sejam
sebelum
adzan subuh. Walaupun hidup dalam usai senja, ia senang bercanda. Karena
itu
agak mengherankan bila tahun ini ia kedengaran pesimis. Mungkinkan itu
pertanda bahwa boleh jadi tahun ini ia meninggalkan kami ?

"Apakah orang sholeh takut menghadapi kematian ?" tanya
seseorang
yang mengarahkan pertanyaanya kepada saya. "Saya selalu dihantu rasa
takut
mati. Mungkin karena saya tidak sholeh. Wak Haji benar. Tahun baru
adalah
berita duka. Seperti napi yang akan dihukum gantung, saya melihat,
setiap
dentang jam membawa saya lebih dekat ke tiang gantungan. Adakah kiat
untuk
mengobati takut mati ?"

Saya jawab bahwa orang sholehpun takut mati. Salah seorang cucu
Rasulullah dikenal sebagai wali Allah. Ia banyak beribadah, sehingga
diberi
gelar Zayn al-'Abidin. Tapi dengarkan doanya, "Kepada-MU aku berlindung
dari
habisnya usia sebelum siap sedia". Jadi orang sholehpun takut mati. Yang
membedakan kita dengan orang sholeh adalah alasan yang menyebabkan takut
mati Kita takut mati karena keterikatan dengan dunia. Kalau saya mati,
siapa
yang akan menjaga kepentingan anak-anak saya, siapa yang akan mengurus
perusahaan saya, siapa yang mengamankan kekayaan saya. Orang sholeh
takut
mati karena ia merasa belum cukup bekal. Ia khawatir akan "habisnya usia
sebelum siap sedia".

Dalam doa yang lain, Zayn al-'Abidin berkata, " Siapa gerangan
yang
keadaannya lebih jelek dari diriku, jika dipindahkan dalam keadaanku
sepeti
ini, aku dipindahkan ke kuburanku. Aku belum menyiapkan pembaringanku.
Aku
belum menghamparkan amal sholeh untuk tikarku. Bagaimana aku tidak
menangis,
padahal aku tidak tahu akhir perjalananku. Kulihat nafsu menipuku dan
hari-hari melengahkanku. Padahal maut telah mengepak-ngepakan sayapnya
diatas kepalaku. Bagaimana aku tidak menangis, kalau kukenang saat aku
menghembuskan nafas yang terakhir. Aku menangis karena kegelapan kubur,
aku
menangis karena kesempitan lahadku, aku menangis karena aku akan keluar
dari
kuburku dalam keadaan telanjang, hina, sambil memikul dosa di atas
punggungku.

Walhasil, kalau takut mati karena belum cukup bekal, peliharalah
rasa takut itu. Tidak perlu kita menghilangkannya. Ingat kepada kematian
mendorong manusia berbuat baik. Ia akan menjadikan amal sholeh sebagai
bekal
untuk kehidupan sesudah kematian. Sadar akan kematian berarti sadar akan
ketiaadaan Ego dan "nonbeing". Bila kita harus mengakhiri semuanya
dengan
kematian, masih absahkah kebiasaan kita untuk terus-menerus mengorbankan
orang lain buat kepentingan kita ? Bukankah hidup kita menjadi lebih
bermakna bila kita "memberikan diri" kita buat kebahagiaan orang lain ?
Dengan menghancurkan Ego, kita memasukkan orang lain (the otherness)
kedalam
eksistensi kita.

Joel Kovel mengamati dengan cermat dunia modern yang disebutnya
sebagai "dunia tanpa ruh". Dalam "History and Spirit: An Inquiry into
the
Spirit of Liberation", Kovel menawarkan pembebasan manusia dari Egonya
dengan memasukkan spiritulitas ke dalam kehidupan. Salah satu caranya
ialah
menyadarkan manusia akan kematian. "Termasuk ke dalam spiritualitas
adalah
kesediaan untuk mati. Hidup yang bermakna adalah kehidupan yang telah
menerima orang lain dan mempersiapkan dirinya untuk mati. Ini tidak
berarti
bahwa dia adalah wujud yang ingin mati. Sebaliknya, jiwa sempurna
memandang
hidup ini lebih indah dan lebih intens. Sungguh, kesadaran akan adanya
kematian, visi tentang bayangan maut, tidak lain daripada menjadikan
kehidupan sebagai titik pandang utama".

Tuhan mendampingkan kematian dan kehidupan pada ayat yang sama,
tetapi Dia menyebut kematian lebih dahulu daripada kehidupan. Dia
menegaskan
bahwa kehidupan hanya bermakna dengan latar belakang kematian. Keduanya
didampingkan sebagai ujian untuk mendorong manusia beramal sholeh.

"Dia yang menjadikan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kamu,
siapa
diantara kamu yang lebih baik amalnya" (QS 67:2)

Rasulullah saw mendampingkan maut dengan Alqur'an. Rasulullah bersabda,
"Aku
tinggalkan bagi kalian dua pemberi peringatan. Yang pertama memberikan
peringatan dengan pembicaraannya. Yang kedua memberikan peringatan
dengan
kebisuannya. Yang pertama, Alqur'an dan yang kedua adalah kematian".

Ternyata Wak Haji yang tampak sehat dalam usianya yang hampir
seabad
adalah orang yang mendengarkan peringatan Alquran tentang kematian.
Ketika
permulaan tahun baru mengingatkan banyak orang akan rencana hidupnya,
Wak
Haji mengingatkan kita akan rencana kematian kita. Di dekat Baitullah,
saya
melihat seorang mantan pejabat tinggi berdoa dengan khusyuk. Air mata
tergenang di dipelupuknya. Ia menyadari, ia berada pada hari-hari akhir
hidupnya. Ia pulang ke tanah air. Di hadapan anak-anaknya, ia berkata,
"Hidup kita akan lebih bermakna bila kita bermanfa'at bagi orang lain".
Seperti Wak Haji, Alquran dan kematian telah memberikan kepadanya
kehidupan
yang lebih manis dan lebih mendalam.


*) dari buku "Reformasi Sufistik"

Minggu, 28 Oktober 2007

Tahukah anda berapa luas langit dan bumi

Tahukah anda berapa luas langit dan bumi ………. Wallahu alam

Tetapi untuk renungan simaklah angka-angka dibawah ini

Bumi kita ini adalah bagian kecil dari bintang Matahari ( Matahari terdiri dari 9 planet dan 40 satelit)

Matahari salah satu bintang dari ratusan milyar bintang pada Galaxy Milky Way, dan

Milky way adalah salah satu galaxy dari 50-an milyar galaxy pada Universe

Berapa besar luas Universe ini …….Tidak ada yang tahu

Tetapi sepanjang pengeukuran sceintific manusia, kira-kira seperti ini

Galaxy yang terdekat dari galaxy kita adalah Andromeda jauhnya 2.000.000 tahun cahaya

Kecepatan cahaya kira-kira sejauh 300.000 kilometer per detik, berarti

Kecepatan cahaya pertahun adalah 300.000 x 60 x 60 x 24 x 365 = 9.460.800.000.000 kilometer

Berati jarak galaxy andomeda adalah 2.000.000 x 9.460.800.000.000 = 18.921.600.000.000.000.000,- km

Galaxy terjauh yang diketahui manusia sampai saat ini sejauh sekitar 14 milyar tahun cahaya,

Berarti kalau dihitung garis tengah universe adalah 28 milyar tahun cahaya, jadi….

Luas Universe adalah 28.000.000.000 x 9.460.800.000.000 = 264,902,400,000,000,000,000,000,- km

Subhanallah …………………..

[3: 190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,


[3: 191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Bandingkanlah dengan kekuasaan manusia yang paling berkuasa…

Lebih kecil dari 1/1000.000.000 atom dari kekuasaan Allah

Bandingkanlah dengan kekayaan kita yang tidak habis tujuh turunan

Lebih kecil dari 1/1.000.000.000 tetes embun dari kekayaan Allah

Bandingkanlah dengan kekuasaan kita …..

Bandingkanlah dengan kekayaan kita ….

Lalu

Lalu mengapa manusia masih ingkar

Bahkan merasa bangga akan keingkarannya

Senin, 13 Agustus 2007

Cinta Kepada Allah

Firman Allah Ta'ala (artinya): "Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat sembahan-sembahanselain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165) "Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."." (Bara'ah/At-Taubah: 24) Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api." Dan disebutkan dalam riwayat lain: "Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum..." dst. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia berkata: "Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun hal itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka." Ibnu 'Abbas, dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala: "... dan putuslah hubungan antara mereka sama sekali." (Al-Baqarah: 166), ia mengatakan: "yaitu kasih sayang." Kandungan tulisan ini: 1. Tafsiran ayat dalam surah Al-Baqarah. Ayat ini menunjukkan barangsiapa
mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah maka
dia adalah musyrik. 2. Tafsiran ayat dalam surah Bara'ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa cinta
kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala-
galanya. 3. Wajib mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih daripada kecintaan
terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda. 4. Pernyataan "tidak beriman", bukan berarti keluar dari Islam, (tetapi artinya ialah tidak
beriman sempurna). 5. Bahwa iman ada rasa manisnya, kadangkala dapat diperoleh seseorang dan
kadangkala tidak. 6. Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kewalian
dari Allah, dan seseorang tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman kecuali
dengan keempat sikap itu. 7. Pemahaman Ibn 'Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan pada
umumnya didasarkan atas kepentingan duniawi. 8. Tafsiran ayat: "... dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali." Ayat
ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang
musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akherat, dan masing-masing
dari mereka akan melepaskan diri darinya. 9. Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan
kecintaan yang sangat. 10. Ancaman terhadap seseorang yang kedelapan perkara tersebut di atas (orang tua,
anak-anak, saudara, isteri, kaum keluarga, harta kekayaan, perniagaan dan tempat
tinggal) lebih dicintainya daripada agamanya. 11. Memuja selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah, itulah
syirik akbar. Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Senin, 02 Juli 2007

Mabuk Dalam Cinta Terhadap Allah

Mabuk Dalam Cinta Terhadap Allah

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya."
Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat untuk seberat Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak kuat untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah."

Oleh karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.

Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit. Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar pembicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."

Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.1. Orang yang mengaku manis berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat
sanjungan dari manusia.3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani
merendahkan dirinya.

Rasulullah s.a.w. telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."